My Photo
Powered by Friendster Blogs

People

Photo Albums

Categories

July 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    

« February 2007 | Main | August 2007 »

Festival Lampion & Cap Go Meh 2007

Nikmati foto-foto perayaan Festival Lampion dan Cap Go Meh Singkawang di website United Singkawang (www.singkawang.us)

                            

Festival Lampion & Cap Go Meh 2007

Nikmati foto-foto perayaan Festival Lampion dan Cap Go Meh di website United Singkawang (www.singkawang.us)

Video Perayaan Cap Go Meh di Singkawang

Dear all,
Telah di-upload video tentang perayaan Cap Go Meh di Singkawang. Video ini ditayangkan di stasiun SCTV tanggal 6 Maret kemarin dan bisa di-download di link berikut:
Good Luck
United Singkawang
-------------------------------
Atraksi Kesaktian Warga Dayak-Tiongkok
Masyarakat Dayak keturunan Tionghoa di Singkawang, Kalimantan Barat, memiliki cara unik saat merayakan Cap Go Meh atau perayaan pascaImlek. Sambil berkeliling kota, para dukun yang disebut laoya atau tatung ini memamerkan ilmu kekebalan tubuh. Meski tubuh mereka ditusuk berbagai benda tajam, seperti kawat, pecahan kaca hingga batangan besi, namun tidak mengeluarkan darah.

Upacara yang digelar belum lama ini, dimulai dari altar klenteng. Para dukun memberikan persembahan kepada Dewa To Pe Kong. Setelah minta diberkahi keselamatan, mereka kemudian memanggil roh. Hanya dalam hitungan menit, tubuh para tatung ini dirasuki roh dan mereka pun menjadi kebal luar biasa.

Ketika itulah, para tatung diarak keliling kota. Diiringi genderang, peserta pawai mengenakan kostum gemerlap pakaian kebesaran suku Dayak dan negeri Tiongkok di masa silam. Para  tatung terus mempertunjukkan kekebalan mereka. Benda tajam ditusukkan menembus pipi dan leher. Pecahan kaca pun diinjak-injak dengan kaki telanjang.

Atraksi ini adalah kebiasaan setiap tahun pada perayaan Cap Go Meh mengikuti tradisi Tionghoa yang berbaur dengan budaya Dayak. Pembauran ini hanya ada di Singkawang. Karena itu Kota Singkawang dijuluki kota seribu kelenteng di Kalbar.

Singkawang, Kota Amoy yang Miskin

Dear all,

Telah di-upload lagi satu video tentang Kota Singkawang. Video ini juga ditayangkan oleh SCTV tanggal 25 Februari 2007 kemarin. Jadi bagi yang tidak sempat menontonnya bisa mencoba men-download video ini.

Video ini bisa di-download di link berikut:

http://www.singkawang.us/modules.php?name=Downloads&d_op=viewdownload&cid=10

Thanks

United Singkawang

http://www.singkawang.us

-------------------------------

Singkawang, Kota Amoy yang Miskin

Tidak semua warga etnis Tionghoa di Tanah Air hidup dalam gelimang kemewahan. Di Singkawang, Kalimantan Barat, banyak pula warga keturunan yang hidup pas-pasan. Reporter SCTV Amien Al Kadrie sempat mengamati dari dekat kehidupan warga Kali Asin, kampung miskin yang didiami warga keturunan setempat.

Di kampung ini mencangkul atau bertanam menjadi kegiatan rutin sebagian masyarakat yang menjadi petani. Pekerjaan sebagai petani merupakan warisan leluhur mereka yang menurut data sejarah datang dari Tiongkok pada 1720. Leluhur yang kemudian beranak-pinak dengan warga Dayak setempat dan membentuk Kota Singkawang.

Namun bertani atau berdagang dan menjadi buruh kasar tidak membawa kemakmuran bagi sebagian besar warganya. Hal ini terbukti dengan rumah-rumah yang rata-rata masih terbuat dari kayu. Bukan pula bangunan baru karena sebagian besar sudah berusia puluhan tahun. Masih banyak pula rumah yang hanya beratap dan berdinding daun nipah. Lantainya cukup tanah.

Rumah-rumah berdinding daun nipah dan berlantai tanah ini ternyata bisa bertahan cukup lama. Rumah Jong Siat Hiong, salah seorang warga keturunan setempat bahkan sudah ditempati selama 30 tahun tanpa pernah direnovasi. Walaupun setiap hujan ia harus bersiap-siap karena air akan masuk dari celah-celah dinding.

Kemiskinan lalu membuat sebagian masyarakat memilih cara lain untuk bertahan hidup. Merantau menjadi pilihan. Ada juga yang memilih mendapat kehidupan yang lebih baik dengan menikahi warga negara asing, utamanya dari Taiwan.

Namun kemiskinan tidak melunturkan semangat beragama mereka. Hal itu terlihat pula dari bangunan kelenteng di setiap sudut kota yang merupakan tempat mereka bersembahyang. Itulah mengapa Singkawang dijuluki Kota Seribu Kelenteng karena begitu banyaknya kelenteng yang tegak bermunculan.

Tidak hanya di Singkawang, di Kampung Baru, Tajur Halang, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat, juga terdapat warga etnis Tionghoa yang hidup kekurangan. Di lokasi yang terletak hanya beberapa puluh kilometer dari Jakarta itu, warga keturunan menyambung hidup sebagai petani dan peternak babi sejak beberapa generasi.

Di kampung yang masih banyak diselingi tanah kebun dan belukar ini, sekelompok masyarakat keturunan telah turun temurun menetap di sini. Mereka mengaku sudah tidak ingat lagi sejak kapan dan bagaimana leluhur mereka sampai tinggal di kampung ini. Hal ini diakui pula oleh Kiwik, satu dari dua orang paling tua di kampung ini.

Namun berdasarkan jejak sejarah, keberadaan masyarakat keturunan di Bojonggede bermula dari masa kejayaan tuan-tuan tanah etnis Cina di masa kolonial Belanda. Saat itu tanah di kawasan ini merupakan milik tuan tanah etnis Tionghoa yang tinggal di Tangerang, Banten.

Untuk mengelola tanah, para tuan tanah itu lalu mendatangkan buruh-buruh tani dari Cina daratan. Buruh-buruh itulah yang kemudian menjadi nenek buyut masyarakat Tionghoa di Kampung Baru. Dan sama seperti kakek buyut mereka, mata pencaharian utama masyarakat ini pun tetap sebagai petani dan peternak babi.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)


Versi: Ukuran file: 2.28 MB
Dimasukkan: 26-Feb-2007 Download: 31

Semarak Imlek di Kota Seribu Kelenteng

Dear all,

Telah di-upload video suasana perayaan Imlek di Singkawang yang ditayangkan di SCTV pada tanggal 25 Februari kemarin di website United Singkawang.

Silahkan download video tersebut di link berikut:

http://www.singkawang.us/modules.php?name=Downloads&d_op=viewdownload&cid=10

Thanks

--------------------

Semarak Imlek di Kota Seribu Kelenteng

Kalau berbicara mengenai Tahun Baru Cina atau Imlek di Tanah Air, rasanya kurang lengkap jika tidak membahas suasana di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Bagaimana tidak. Banyak warga etnis Tionghoa yang merantau sengaja pulang ke kota ini saat Imlek. Kota ini memang mayoritas dihuni penduduk Tionghoa.

Semarak pun terlihat pula pada perayaan beberapa waktu lalu. Menjelang perayaan, Bandar Udara Supadio, Pontianak, pasti lebih ramai dari biasanya. Wajah-wajah oriental memenuhi hampir semua bagian bandara. Mereka datang dari luar daerah, bahkan luar negeri.

Kebanyakan tiba berombongan, tua dan muda datang bersama. Tangan menjinjing berbagai barang, termasuk oleh-oleh. Kerinduan bertemu kerabat dan saudara membuat sekitar tiga jam perjalanan melalui darat ke Singkawang menjadi tidak ada artinya. Apalagi sudah terbayang keramaian Imlek di kampung halaman.

Kegembiraan semakin terasa ketika tiba di kampung halaman. Mereka dapat kembali beribadah di kelenteng-kelenteng tua yang ada di kota ini. Kelenteng memang sangat mudah ditemukan di kota ini, makanya kota ini mendapat julukan Kota Seribu Kelenteng.

Suasana khas Cina terasa di berbagai bangunan, lengkap dengan ornamen-ornamen. Apalagi saat menjelang perayaan Tahun Baru Cina ini, kota ini terus mempercantik diri. Kendati demikian, tidak semua warga keturunan di Singkawang dapat merayakan hari raya dengan penuh kemewahan. Perayaan sederhana justru dilakukan masyarakat yang kebanyakan hidupnya pas-pasan. Namun itu tidak berarti mengurangi kemeriahan perayaan.

Jauh hari sebelumnya persiapan sudah dilakukan warga. Rumah-rumah dibersihkan dan dihias. Meja saji untuk sembahyang dipersiapkan. Makanan pun mulai dimasak. Bahkan angpau juga sudah siap dibagikan.

Satu hari menjelang Imlek menjadi saat seluruh keluarga berkumpul di meja makan. Makan besar dengan segala lauk pauk khas Tionghoa yang hanya dilakukan sekali dalam setahun. Jangan kaget jika pada malam menjelang Imlek Anda berkali-kali mendengar letupan petasan.

Petasan memang menjadi salah satu tradisi perayaan ini dan nantinya Cap Go Meh. Di tempat lain petasan boleh saja dilarang, tapi di Singkawang penjual petasan ada di berbagai sudut, berdampingan dengan penjual asesoris Imlek lain.

Begitu malam Imlek tiba, Tahun Baru 2558 pun disambut dengan suka cita. Lampion menerangi dan menghias kota. Lilin-lilin dan dupa memenuhi kelenteng. Menjelang tengah malah, kemeriahan berpindah ke kelenteng. Dengan hio di tangan, warga kota menyembah dewa-dewa yang menguasai alam semesta. Leluhur juga tidak lupa dipuja.

Kemeriahan tidak berhenti saat itu. Perayaan masih berlanjut esok harinya. Pembagian angpau menjadi saat yang ditunggu, terutama oleh anak-anak. Angpau tidak hanya dibagikan kepada saudara dan kerabat, tapi juga tetangga sekitar.

Semarak berlanjut, liong atau naga mendapat giliran menghibur warga. Imlek di Singkawang memang tidak mudah dilupakan. Utamanya bagi warga setempat, bahkan yang sudah merantau ke berbagai daerah.(MAK/Amin Al Kadri)


Versi: Ukuran file: 2.48 MB
Dimasukkan: 26-Feb-2007
Download: 37